SBB, MALUKU-Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pengurus Cabang Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) angkat bicara keras terkait dinamika politik dan ruang publik di daerah tersebut. Melalui Ketua PC IMM SBB, Iwan Faisal Tuhuteru, organisasi ini mengajak seluruh pemuda dan elemen masyarakat untuk menjaga objektivitas serta menolak segala bentuk narasi agitatif yang tidak bertanggung jawab, Rabu (22/04/2026).
Dalam keterangannya, Iwan menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung penuh seluruh program kolaborasi yang digulirkan pemerintah daerah, termasuk kerja nyata yang dilakukan oleh TP PKK dan berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya.
“Kami mendorong Bupati Asri Arman agar tetap fokus menjalankan pemerintahan dan tidak terpolarisasi oleh agitasi-agitasi yang kami terawang sengaja dimainkan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Kami siap menjadi mitra kritis, namun tetap mendukung pembangunan berkelanjutan demi kemajuan SBB,” tegas Iwan Faisal Tuhuteru dengan tegas.
Kritik Boleh, Tapi Jangan Jadi Provokasi!. Berbagai kegiatan positif yang baru saja dilaksanakan dalam rangka Hari Kartini, mulai dari aksi bersih lingkungan, santunan disabilitas, hingga bantuan sosial, menjadi bukti nyata bahwa semangat pengabdian sedang digelorakan. Namun sayang, di balik kerja nyata tersebut, justru bermunculan narasi-narasi negatif yang tidak sehat.
Isu yang menuduh adanya pengaruh dominan atau campur tangan yang tidak pada tempatnya, dinilai IMM sebagai klaim yang KOSONG TANPA BUKTI.
“Kami melihat kritik yang berkembang belakangan ini sudah kehilangan basis data dan objektivitas. Kritik yang sehat itu berbasis fakta, proporsional, dan tujuannya untuk perbaikan. Bukan justru membangun asumsi, spekulasi, hingga melakukan pembunuhan karakter secara terbuka,” tandasnya.
Menurutnya, sangat disayangkan jika ada pihak-pihak yang mengaku sebagai pengamat atau intelektual, tapi justru menyebarkan opini yang sarat bias dan kepentingan pribadi. Padahal, prinsip dasar keilmuan menuntut kejujuran data dan netralitas.
“Ketika kritik dibangun di atas kebohongan dan asumsi liar, itu namanya bukan kontrol sosial, tapi PROVOKASI! Itu hanya akan menciptakan kegaduhan dan memecah belah persatuan di SBB,” seru Iwan.
Pemuda Harus Jadi Filter, Bukan Penyebar Hoaks, IMM menekankan peran strategis pemuda dan mahasiswa sebagai garda terdepan penjaga kualitas wacana publik. Generasi muda tidak boleh tergiring oleh arus informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Pemuda harus menjadi agen literasi. Mampu membedakan mana fakta dan mana opini. Jangan sampai kita justru menjadi corong bagi oknum yang ingin merusak citra daerah demi kepentingan sesaat,” ujarnya.
Pihaknya juga mengingatkan, bahwa membangun daerah butuh keseimbangan. Pemerintah harus transparan, tapi masyarakat juga harus bijak menyikapi informasi.
“Kami tegaskan sekali lagi: Kritik itu penting untuk demokrasi, tapi narasi agitatif dan menghasut itu berbahaya dan tidak mendidik. Mari jaga SBB agar tetap kondusif, fokus pada pembangunan, dan jauh dari politik kotor,” pungkas Ketua IMM SBB itu.
***










